VIVAnews - Jangan remehkan gangguan kesehatan yang terkesan sepele. Seperti ketika lingkar pinggang Anda bertambah, meski bobot tubuh ideal.
Ukuran pinggang bisa memprediksi berbagai risiko kesehatan seperti penyakit jantung dan diabetes. Deteksi penyakit melalui ukuran pinggang ini dinilai cukup efektif dibandingkan lewat pengukuran indeks massa tubuh.
Mengukur lingkar pinggang sangat mudah. Lingkarkan meteran tubuh yang biasa digunakan penjahit di atas pusar. Jika ukuran lingkar pinggang menyentuh angka 35 inci pada wanita dan 40 inci pada pria, atau lebih, perlu waspada karena masuk kategori bahaya.
Lingkar pinggang wanita lebih dari 35 inci menunjukkan risiko sindroma metabolik. Suatu kumpulan kondisi yang meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung. Bahkan, ketika Anda memiliki berat badan yang cukup ideal.
"Perut gendut dengan lingkar pinggang lebih dari ideal bisa menekan lemak di paru-paru. Terutama ketika menekuk pinggang akan membuat Anda sulit bernapas," kata Gerald Fletcher, MD, seorang ahli jantung di Mayo Clinic di Jacksonville, Florida.
Untuk mengatasinya, lakukan olahraga secara teratur untuk membakar kalori tubuh. Perlu juga mengontrol denyut jantung secara rutin setalah melakukan latihan. Selain berolahraga, ganti karbohidrat berkadar gula tinggi seperti roti putih, permen dan biskuit dengan karbohidrat rendah kalori. (wm)
Baca selengkapnya...
Jumat, 23 April 2010
Tetap Langsing Meski Makan Enak
Jamaknya, usai Lebaran berat badan naik beberapa kilo. Terapkan pola makan ala metode kualitatif, dimana kita bisa makan enak, tapi berat badan bisa turun, dan dijamin tidak naik lagi.
Rasanya, urusan berat badan menjadi persoalan banyak perempuan. Segala macam diet rela dijalankan, demi mencapai berat badan idaman. Namun, tak jarang diet ketat malah membuat stres. Pasalnya, berat badan yang telah susah payah diturunkan, akan dengan sangat mudah naik kembali. Apalagi usai Lebaran seperti sekarang ini, dimana kita kerap lepas kendali menyantap hidangan serba lezat.
Sebetulnya, salah satu cara "mudah" untuk menurunkan berat badan (kemudian mempertahankannya untuk tidak naik lagi), adalah dengan mengatur pola makan. Mengatur pola makan yang dikenal dengan cara diet berdasarkan metode kualiatif, diperkenalkan oleh Iping S, seorang terapis dari Tee Bee Center, Jakarta.
Iping telah memperkenalkan metode ini sejak tahun 2003. Metode ini adalah metode pengaturan konsumsi makanan yang bersifat alamiah dan disesuaikan dengan pola makan orang langsing yang bisa diterapkan bagi semua orang.
"Efek pola makan ini mampu memperkecil kapasitas pencernaan (lambung) sekaligus meningkatkan kualitas metabolisme tubuh. Sehingga terbentuk tubuh langsing untuk jangka panjang dan fungsi organ metabolisme yang prima."
Pada prinsipnya, metode kualitatif dapat membantu seseorang menjaga berat tubuh dan menurunkannya dengan cara tinggi kualitas, rendah kuantitas. Artinya, mengurangi atau membatasi volume (porsi) makanan yang dikonsumsi, bukan mengurangi materi (jenis) makanannya.
DISIPLIN WAKTU MAKAN
Metode kualitatif, kata Iping, sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, pola makan yang mengacu pada metode ini memperhatikan penerimaan gizi yang diperlukan tubuh pada satu kali makan, meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, dan air.
Di dalam penerapannya, pola makan kualitatif sangat memperhatikan waktu makan. Untuk menjalankan metode ini, harus mematuhi jam makan yang biasanya disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing. Dengan demikian, pola makan seseorang menjadi lebih teratur dan terkendali.
Sering kali, kata Iping, orang gagal menjalani diet karena jam makannya tidak disiplin atau baru akan makan jika perutnya telah benar-benar terasa lapar. Akibatnya, volume makannya tidak terkontrol alias "balas dendam" saat makan.
Pola makan masyarakat saat ini, ujar Iping, memang cenderung menggemukkan. Pola makan ini erat kaitannya dengan gaya hidup seseorang. "Tidak sedikit orang yang terbiasa makan bukan pada waktunya, makan berlebihan dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Mereka bukannya tidak mengerti pola makan yang sehat, tetapi lebih karena faktor kebiasaan saja."
Iping menerangkan, metode kualitatif mewajibkan untuk makan tiga kali sehari dengan jadwal makan sebagai berikut:
Makan pagi : Jam 07.00-08.00 atau 08.00-09.00 atau 09.00-10.00
Makan siang : Jam 12.00-13.00 atau 13.00-14.00
Makan malam : Jam 18.00-19.00 atau 19.00-20.00 atau 20.00-21.00
Waktu makan tersebut dapat disesuaikan menurut kebiasaan makan masing-msing orang, "Yang penting ia harus konsisten setiap hari." Oleh karena itu, jika akan melakukan metode kualitatif, tiak diperkenankan untuk merasa lapar. Makanan kecil yang kaya serat dan kalori dalam jumlah yang dianjurkan untuk mengatasi lapar, boleh-boleh saja.
Agar tidak diganggu perasaan lapar saat menjalani metode ini, diperlukan persiapan yang baik. Caranya, memulai menu makan pagi dengan minuman berkalori cukup tinggi dan makanan kaya protein dalam jumlah yang ditentukan.
Iping berpesan, jangan pernah meninggalkan sarapan. "Sejumlah penelitian menyebutkan, sarapan yang berkualitas justru dapat menyukseskan program diet. Dengan makan pagi yang baik, seseorang lebih mudah terhindar dari rasa lapar. Meski kemudian porsi makan siang dan malamnya dikurangi, kondisi tubuh tetap akan lebih fit, dibandingkan dengan mereka yang tidak sarapan."
TAK ADA PANTANGAN
Di dalam metode kualitatif, volume (porsi) makanan yang dikonsumsi harus dibatasi. Namun, sama sekali tidak ada makanan yang perlu dihindari, apalagi dipantang. Metode ini sangat mengutamakan pemilihan makanan yang berkulitas dan kaya gizi.
Meski tubuh memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap makanan apa pun untuk dikonsumsi, tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak tetap akan menimbulkan gangguan pada metabolisme tubuh (pembesaran lambung).
Dibandingkan fungsi tubuh lainnya, ujar Iping, fungsi pencernaan memerlukan asupan energi yang besar. Makan berlebihan akan menguras energi dan mempekerjakan sistem tubuh lebih keras.
"Salah satu cirinya, orang yang kekenyangan akan lebih mudah merasa ngantuk. Sebab tubuh dipaksa mengerahkan energinya ke fungsi pencernan. Akibatnya, sistem metabolisme mengalami penurunan fungsi."
Dengan metode kualitatif, makanan seperti daging, makanan berkalori tinggi, dan lemak tidak dilarang. Tetapi, tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan, yaitu dengan membatasi porsinya. "Jadi, menghadiri jamuan pesta pun, tak perlu khawatir lagi."
Mulailah bersikap positif sebelum memulai menjalankan metode kualitatif. "Tanamkan keyakinan untuk mencapai tubuh yang langsing dan sehat. Dengan keyakinan ini, metode kualitatif dapat dijalankan dengan lebih mudah, santai, dan tidak perlu menghindar dari berbagai godaan makanan lezat," papar Iping.
UBAH POLA MAKAN
Lalu, mulailah untuk mengubah pola makan. Awali dengan cara mengonsumsi makanan dalam kuantitas kecil tetapi bekualitas tinggi (kualitas dilihat dari aspek gizi). Orientasi pola makan ini terpusat pada pembentukan lambung dan sistem pencernaan lainnya. Sistem ini dibentuk agar menjadi lebih kecil dari sebelumnya, sehingga daya tampungnya pun menjadi lebih kecil.
Dengan demikian, lambung diharapkan hanya menampung makanan yang berkualitas saja, sehingga kerja organ vital seperti jantung, ginjal, hati, limpa, dan pancreas menjadi lebih ringan.
Pastikan juga volume (porsi) makanannya sudah sesuai dengan aturan metode kualitatif. Disarankan makanan yang dimakan adalah makanan segar dan tidak mengandung zat berbahaya bagi tubuh.
"Anda masih bisa menikmati spaghetti dengan cream sauce, martabak telur, bakso, siomai, bakmi ayam, pizza, dan sebagainya. Tetapi, tetap harus berada di dalam rambu-rambu yang sudah menjadi ketentuan metode kualitatif."
Meski tak ada satu jenis makanan pun yang menjadi pantangan di dalam metode kualitatif, Iping menyarankan agar tidak mengonsumsi makanan yang terlalu pedas dan terlalu asam.
Kedua jenis makanan ini memang sangat menggoda lidah, tetapi justru dapat merangsang getah lambung Baca selengkapnya...
Rasanya, urusan berat badan menjadi persoalan banyak perempuan. Segala macam diet rela dijalankan, demi mencapai berat badan idaman. Namun, tak jarang diet ketat malah membuat stres. Pasalnya, berat badan yang telah susah payah diturunkan, akan dengan sangat mudah naik kembali. Apalagi usai Lebaran seperti sekarang ini, dimana kita kerap lepas kendali menyantap hidangan serba lezat.
Sebetulnya, salah satu cara "mudah" untuk menurunkan berat badan (kemudian mempertahankannya untuk tidak naik lagi), adalah dengan mengatur pola makan. Mengatur pola makan yang dikenal dengan cara diet berdasarkan metode kualiatif, diperkenalkan oleh Iping S, seorang terapis dari Tee Bee Center, Jakarta.
Iping telah memperkenalkan metode ini sejak tahun 2003. Metode ini adalah metode pengaturan konsumsi makanan yang bersifat alamiah dan disesuaikan dengan pola makan orang langsing yang bisa diterapkan bagi semua orang.
"Efek pola makan ini mampu memperkecil kapasitas pencernaan (lambung) sekaligus meningkatkan kualitas metabolisme tubuh. Sehingga terbentuk tubuh langsing untuk jangka panjang dan fungsi organ metabolisme yang prima."
Pada prinsipnya, metode kualitatif dapat membantu seseorang menjaga berat tubuh dan menurunkannya dengan cara tinggi kualitas, rendah kuantitas. Artinya, mengurangi atau membatasi volume (porsi) makanan yang dikonsumsi, bukan mengurangi materi (jenis) makanannya.
DISIPLIN WAKTU MAKAN
Metode kualitatif, kata Iping, sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, pola makan yang mengacu pada metode ini memperhatikan penerimaan gizi yang diperlukan tubuh pada satu kali makan, meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, serat, dan air.
Di dalam penerapannya, pola makan kualitatif sangat memperhatikan waktu makan. Untuk menjalankan metode ini, harus mematuhi jam makan yang biasanya disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing. Dengan demikian, pola makan seseorang menjadi lebih teratur dan terkendali.
Sering kali, kata Iping, orang gagal menjalani diet karena jam makannya tidak disiplin atau baru akan makan jika perutnya telah benar-benar terasa lapar. Akibatnya, volume makannya tidak terkontrol alias "balas dendam" saat makan.
Pola makan masyarakat saat ini, ujar Iping, memang cenderung menggemukkan. Pola makan ini erat kaitannya dengan gaya hidup seseorang. "Tidak sedikit orang yang terbiasa makan bukan pada waktunya, makan berlebihan dan mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Mereka bukannya tidak mengerti pola makan yang sehat, tetapi lebih karena faktor kebiasaan saja."
Iping menerangkan, metode kualitatif mewajibkan untuk makan tiga kali sehari dengan jadwal makan sebagai berikut:
Makan pagi : Jam 07.00-08.00 atau 08.00-09.00 atau 09.00-10.00
Makan siang : Jam 12.00-13.00 atau 13.00-14.00
Makan malam : Jam 18.00-19.00 atau 19.00-20.00 atau 20.00-21.00
Waktu makan tersebut dapat disesuaikan menurut kebiasaan makan masing-msing orang, "Yang penting ia harus konsisten setiap hari." Oleh karena itu, jika akan melakukan metode kualitatif, tiak diperkenankan untuk merasa lapar. Makanan kecil yang kaya serat dan kalori dalam jumlah yang dianjurkan untuk mengatasi lapar, boleh-boleh saja.
Agar tidak diganggu perasaan lapar saat menjalani metode ini, diperlukan persiapan yang baik. Caranya, memulai menu makan pagi dengan minuman berkalori cukup tinggi dan makanan kaya protein dalam jumlah yang ditentukan.
Iping berpesan, jangan pernah meninggalkan sarapan. "Sejumlah penelitian menyebutkan, sarapan yang berkualitas justru dapat menyukseskan program diet. Dengan makan pagi yang baik, seseorang lebih mudah terhindar dari rasa lapar. Meski kemudian porsi makan siang dan malamnya dikurangi, kondisi tubuh tetap akan lebih fit, dibandingkan dengan mereka yang tidak sarapan."
TAK ADA PANTANGAN
Di dalam metode kualitatif, volume (porsi) makanan yang dikonsumsi harus dibatasi. Namun, sama sekali tidak ada makanan yang perlu dihindari, apalagi dipantang. Metode ini sangat mengutamakan pemilihan makanan yang berkulitas dan kaya gizi.
Meski tubuh memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap makanan apa pun untuk dikonsumsi, tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak tetap akan menimbulkan gangguan pada metabolisme tubuh (pembesaran lambung).
Dibandingkan fungsi tubuh lainnya, ujar Iping, fungsi pencernaan memerlukan asupan energi yang besar. Makan berlebihan akan menguras energi dan mempekerjakan sistem tubuh lebih keras.
"Salah satu cirinya, orang yang kekenyangan akan lebih mudah merasa ngantuk. Sebab tubuh dipaksa mengerahkan energinya ke fungsi pencernan. Akibatnya, sistem metabolisme mengalami penurunan fungsi."
Dengan metode kualitatif, makanan seperti daging, makanan berkalori tinggi, dan lemak tidak dilarang. Tetapi, tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan, yaitu dengan membatasi porsinya. "Jadi, menghadiri jamuan pesta pun, tak perlu khawatir lagi."
Mulailah bersikap positif sebelum memulai menjalankan metode kualitatif. "Tanamkan keyakinan untuk mencapai tubuh yang langsing dan sehat. Dengan keyakinan ini, metode kualitatif dapat dijalankan dengan lebih mudah, santai, dan tidak perlu menghindar dari berbagai godaan makanan lezat," papar Iping.
UBAH POLA MAKAN
Lalu, mulailah untuk mengubah pola makan. Awali dengan cara mengonsumsi makanan dalam kuantitas kecil tetapi bekualitas tinggi (kualitas dilihat dari aspek gizi). Orientasi pola makan ini terpusat pada pembentukan lambung dan sistem pencernaan lainnya. Sistem ini dibentuk agar menjadi lebih kecil dari sebelumnya, sehingga daya tampungnya pun menjadi lebih kecil.
Dengan demikian, lambung diharapkan hanya menampung makanan yang berkualitas saja, sehingga kerja organ vital seperti jantung, ginjal, hati, limpa, dan pancreas menjadi lebih ringan.
Pastikan juga volume (porsi) makanannya sudah sesuai dengan aturan metode kualitatif. Disarankan makanan yang dimakan adalah makanan segar dan tidak mengandung zat berbahaya bagi tubuh.
"Anda masih bisa menikmati spaghetti dengan cream sauce, martabak telur, bakso, siomai, bakmi ayam, pizza, dan sebagainya. Tetapi, tetap harus berada di dalam rambu-rambu yang sudah menjadi ketentuan metode kualitatif."
Meski tak ada satu jenis makanan pun yang menjadi pantangan di dalam metode kualitatif, Iping menyarankan agar tidak mengonsumsi makanan yang terlalu pedas dan terlalu asam.
Kedua jenis makanan ini memang sangat menggoda lidah, tetapi justru dapat merangsang getah lambung Baca selengkapnya...
10 Mitos Turun Berat Badan
Kapan kebohongan diterima sebagai kebenaran? Saat kebohongan itu didengungkan berulang-ulang bak doktrin.
Meski tahu itu mitos, namun sebagian dari kita tetap saja mempercayainya, terutama jika terkait dengan program penurunan berat badan.
Industri diet masih saja dilingkupi oleh konsep salah, dibelit oleh mitos yang diulang-ulang sehingga seolah-olah dianggap sebagai kebenaran, demikian menurut psikolog Jeffrey Wilbert, Ph.D., penulis Fattitudes.
Tak heran jika industri pelangsingan tubuh menghabiskan miliaran dolar utk iklan promosi guna menjerat konsumen, bahkan dengan cara berlebihan. "Hanya sedikit orang yang sukses dengan program diet yang ditawarkan, namun janji-janji tetap saja diobral, dan malangnya sebagian besar orang tetap percaya," kritik Wilbert.
Bagaimana agar tak termakan rayuan gombal produsen yang hanya memikirkan laba? Edukasi diri Anda dengan data terpercaya. Yuk, kita mulai dengan 10 kebohongan mengenai kesuksesan diet yang hingga detik ini masih ada yang percaya:
1. Hilang 30 pound dalam 30 hari
Ini hanya gimmick menyesatkan yang didoktrin produsen bagi calon konsumen. "Itu tidak sehat dan tidak benar," tandas Wilbert. Penurunan berat badan permanen membutuhkan perubahan gaya hidup, tidak dengan jalan pintas.
2. Lemak buruk untukmu
Tak semua lemak buruk bagi mereka yang tengah menurunkan berat badan. Ada memang lemak jahat yang harus dihindari, namun lemak baik tetap dibutuhkan bagi kesehatan.
3. Hindari karbohidrat
Setelah lemak, karbohidrat didengungkan wajib dihindari bagi mereka yang berdiet. Saat Anda berniat menurunkan berat badan, bedakan antara karbohidrat yang tidak sehat (misalnya gula pasir), dan karbohidrat kompleks, seperti sayuran dan biji-bijian yang menyediakan vitamin penting dan serat untuk membantu pencernaan bekerja lancar.
4. Tidak makan
Uh…no. Tidak memakan apapun hanya akan membahayakan kondisi tubuh, meski itu atas nama pelangsingan. Dengan tidak makan, anda menghilangkan massa otot, bukan lemak tubuh. Bahkan saat bobot tubuh turun beberapa kilogram, mereka akan kembali saat Anda mulai makan secara normal. Emang enak?
5. Jangan makan setelah jam 6 sore!
Bukan masalah waktu makan, tapi apa yang anda makan, kata Shari Lieberman, PhD, penulis 'Dare to Lose'. “Di Eropa orang-orang makan jam 10 malam, namun ukuran tubuhnya separuh dari warga Amerika," ujarnya.
6. Salad itu sehat
Bacon, keju, ayam goreng dan oily dressings yang terdapat pada salad wajib dipertimbangkan sebagai sumber lemak tersembunyi. Pilih saja salad buah dan sayur yang benar-benar bebeas lemak 'jahat'.
7. Diet soda membantu menurunkan berat badan
Wajib dicermati, kata Lieberman, tak ada satu studi pun yang menunjukkan bahwa soda membantu penurunan berat badan. Jadi kenapa Anda percaya?
8. Jangan sering menimbang
Ini adalah salah satu hal salah kaparah yang sama sekali tak disetujui Rick Hall, pakar nutrisi dan diet. menurutnya, dengan mengcek berat badan melalui timbangan sekali atau dua kali seminggu, adalah jalan nyata untuk mengukur perkembangan program pelangsingan tubuh. Namun Lieberman menganggap mengukur dengan timbangan adalah kegiatan yang menyebalkan. Dia menyarankan Anda secara berkala mengukur lingkar lengan, perut dan paha.
9. Andalkan pil
“Anda tak bisa mengganti makanan sehat dan olahraga hanya dengan sebutir pil," tegas Hall. "Pil bukanlah hal baru, mereka sudah dicoba beberapa dekade dengan efek samping yang mengerikan!"
10. Anda harus gabung di gym
Sesungguhnya, penelitian terbaru mengindikasikan bahwa aktivitas fisik moderat selama 30-60 menit per hari dibutuhkan untuk menyeimbangkan asupan makanan sehat. Jadi tak perlu olahraga ekstrim terus-menerus dengan ikut klub kebugaran. "Ingat, gerakkan saja tubuh Anda!" pesan Hall.
Berani mencoba?
Baca selengkapnya...
Meski tahu itu mitos, namun sebagian dari kita tetap saja mempercayainya, terutama jika terkait dengan program penurunan berat badan.
Industri diet masih saja dilingkupi oleh konsep salah, dibelit oleh mitos yang diulang-ulang sehingga seolah-olah dianggap sebagai kebenaran, demikian menurut psikolog Jeffrey Wilbert, Ph.D., penulis Fattitudes.
Tak heran jika industri pelangsingan tubuh menghabiskan miliaran dolar utk iklan promosi guna menjerat konsumen, bahkan dengan cara berlebihan. "Hanya sedikit orang yang sukses dengan program diet yang ditawarkan, namun janji-janji tetap saja diobral, dan malangnya sebagian besar orang tetap percaya," kritik Wilbert.
Bagaimana agar tak termakan rayuan gombal produsen yang hanya memikirkan laba? Edukasi diri Anda dengan data terpercaya. Yuk, kita mulai dengan 10 kebohongan mengenai kesuksesan diet yang hingga detik ini masih ada yang percaya:
1. Hilang 30 pound dalam 30 hari
Ini hanya gimmick menyesatkan yang didoktrin produsen bagi calon konsumen. "Itu tidak sehat dan tidak benar," tandas Wilbert. Penurunan berat badan permanen membutuhkan perubahan gaya hidup, tidak dengan jalan pintas.
2. Lemak buruk untukmu
Tak semua lemak buruk bagi mereka yang tengah menurunkan berat badan. Ada memang lemak jahat yang harus dihindari, namun lemak baik tetap dibutuhkan bagi kesehatan.
3. Hindari karbohidrat
Setelah lemak, karbohidrat didengungkan wajib dihindari bagi mereka yang berdiet. Saat Anda berniat menurunkan berat badan, bedakan antara karbohidrat yang tidak sehat (misalnya gula pasir), dan karbohidrat kompleks, seperti sayuran dan biji-bijian yang menyediakan vitamin penting dan serat untuk membantu pencernaan bekerja lancar.
4. Tidak makan
Uh…no. Tidak memakan apapun hanya akan membahayakan kondisi tubuh, meski itu atas nama pelangsingan. Dengan tidak makan, anda menghilangkan massa otot, bukan lemak tubuh. Bahkan saat bobot tubuh turun beberapa kilogram, mereka akan kembali saat Anda mulai makan secara normal. Emang enak?
5. Jangan makan setelah jam 6 sore!
Bukan masalah waktu makan, tapi apa yang anda makan, kata Shari Lieberman, PhD, penulis 'Dare to Lose'. “Di Eropa orang-orang makan jam 10 malam, namun ukuran tubuhnya separuh dari warga Amerika," ujarnya.
6. Salad itu sehat
Bacon, keju, ayam goreng dan oily dressings yang terdapat pada salad wajib dipertimbangkan sebagai sumber lemak tersembunyi. Pilih saja salad buah dan sayur yang benar-benar bebeas lemak 'jahat'.
7. Diet soda membantu menurunkan berat badan
Wajib dicermati, kata Lieberman, tak ada satu studi pun yang menunjukkan bahwa soda membantu penurunan berat badan. Jadi kenapa Anda percaya?
8. Jangan sering menimbang
Ini adalah salah satu hal salah kaparah yang sama sekali tak disetujui Rick Hall, pakar nutrisi dan diet. menurutnya, dengan mengcek berat badan melalui timbangan sekali atau dua kali seminggu, adalah jalan nyata untuk mengukur perkembangan program pelangsingan tubuh. Namun Lieberman menganggap mengukur dengan timbangan adalah kegiatan yang menyebalkan. Dia menyarankan Anda secara berkala mengukur lingkar lengan, perut dan paha.
9. Andalkan pil
“Anda tak bisa mengganti makanan sehat dan olahraga hanya dengan sebutir pil," tegas Hall. "Pil bukanlah hal baru, mereka sudah dicoba beberapa dekade dengan efek samping yang mengerikan!"
10. Anda harus gabung di gym
Sesungguhnya, penelitian terbaru mengindikasikan bahwa aktivitas fisik moderat selama 30-60 menit per hari dibutuhkan untuk menyeimbangkan asupan makanan sehat. Jadi tak perlu olahraga ekstrim terus-menerus dengan ikut klub kebugaran. "Ingat, gerakkan saja tubuh Anda!" pesan Hall.
Berani mencoba?
Baca selengkapnya...
Langganan:
Postingan (Atom)
